Hubungan Ketepatan Switch Therapy Terhadap Kesembuhan Luka, Lama Rawatan dan Biaya Pengobatan Antibiotik Pasien Appendisitis

Lathvi Masyithah, Armenia Armenia, Almahdy Almahdy

Abstrak


Switch therapy antibiotik merupakan penggantian terapi antibiotik intravena ke oral. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan ketepatan switch therapy terhadap kesembuhan luka, lama rawatan dan biaya pengobatan antibiotik pasien. Penelitian cross-sectional ini menggunakan data medical record dan pengamatan langsung pada pasien (penilaian luka secara makroskopis). Metode t-test digunakan untuk melihat hubungan ketepatan switch therapy terhadap kesembuhan luka, lama rawatan dan biaya pengobatan antibiotik pasien. Kebermaknaan diambil pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai kesembuhan luka pasien yang mendapatkan ketidaktepatan switch therapy tidak berbeda nyata dengan nilai kesembuhan luka pasien yang mendapatkan ketepatan switch therapy (P>0,05). Akan tetapi, lama rawatan pasien yang mendapatkan switch therapy yang tepat lebih pendek secara nyata dibandingkan dengan lama rawatan pasien yang mendapatkan switch therapy tidak tepat (P<0,05). Selanjutnya biaya pengobatan antibiotik pasien tepat switch therapy lebih rendah dibandingkan biaya pengobatan antibiotik pasien tidak tepat switch therapy (P<0,05). Ini berarti bahwa switch therapy yang tepat akan memberikan clinical outcome yang lebih efisien, terutama dalam hal lama rawatan dan biaya pengobatan antibiotik.


Kata Kunci


switch therapy; kesembuhan luka; lama rawatan; biaya pengobatan; appendisitis

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Brunicardi, F.C., Andersen, D., Biliar, T.R., Dunn, D.L., Hunter, J.G., Matthows, J.B., Pollock, R.E. (2010). Principles of Surgery. 9th ed. USA: McGraw-Hill.

Gyssens IC. (2011). Antibiotic Policy. Journal of Antibiotic Agents, Page 11 – 20.

Waagsbø, B., Sundøy, A., & Quist Paulsen, E. (2008). Reduction of unnecessary IV antibiotic days using general criteria for antibiotic switch. Scandinavian journal of infectious diseases, 40(6-7), 468-473.

Mertz, D., Koller, M., Haller, P., Lampert, M. L., Plagge, H., Hug, B., ... & Bassetti, S. (2009). Outcomes of early switching from intravenous to oral antibiotics on medical wards. Journal of Antimicrobial Chemotherapy, 64(1), 188-199.

Rawlins, M & Cerbe, L. (2006). Intravenous to Oral (IV to PO) antimicrobial switching. ASA Newsletter, No 24.

Clarkson, A., Vivienne W. and Tim H. (2010). Guidline for the Intraveneous to Oral Switch of Antibiotic Theraphy, Nottingham University Hospitals. Nottingham University Hospital, Nottingham

Lee, S. L., Azmi, S., & Wong, P. S. (2012). Clinicians’ knowledge, beliefs and acceptance of intravenous-to-oral antibiotic switching, Hospital Pulau Pinang. Med J Malaysia, 67(2), 190-198.

Wong, B. L. K., & Armando, G. (2011). Intraveonus to Oral Switch of Antibiotic. Journal of Clinical Audits, 3, 1-7.

Pusfita, M. (2013). Kajian Switch Therapy Antibiotik Pada Pasien Apendisitis di SMF Bedah RSUP Dr. Djamil Padang. Tesis. Padang: Fakultas Farmasi Pascasarjana Universitas Andalas.

McLaughlin, C. M., Bodasing, N., Boyter, A. C., Fenelon, C., Fox, J. G., & Seaton, R. A. (2005). Pharmacy-implemented guidelines on switching from intravenous to oral antibiotics: an intervention study. Q J Med, 98(10), 745-752.

Cunha, B A. (2008). Oral and I.V.-to P.O. Switch Antibiotic Therapy of Hospitalized Patients with Serious Infection. Scandinavian Journal of Infectious Diseases, 40, 1004-1006.

Manjas, M., Henky, J., & Agus, S. (2010). Penggunaan Krim Amnion Pada Penyembuhan Luka Sayatan Tikus Wistar. Majalah Kedokteran Indonesia, 60(6), 268-272.

Anderson, G.D. (2010). Developmental Pharmacokinetics. New York: Elsevier inc.

Frazer, A. (2010). A complete course of intravenous antibiotics versus a combination of intravenous and oral antibiotic for perforated appendicitis in children: a prospective randomized trial. J Pediatr Surg, 45, 1198-1202.

Rice, H. E., Brown, R. L., Gollin, G., Caty, M. G., Gilbert, J., Skinner, M. A., ... & Azizkhan, R. G. (2001). Results of a pilot trial comparing prolonged intravenous antibiotics with sequential intravenous/oral antibiotics for children with perforated appendicitis. Archives of Surgery, 136(12), 1391-1395.

Daskalakis, K., Juhlin, C., & Påhlman, L. (2014). The use of pre-or postoperative antibiotics in surgery for appendicitis: a systematic review. Scandinavian Journal of Surgery, 103(1), 14-20.

Gollin, G., Abarbanell, A., & Moores, D. (2002). Oral antibiotics in the management of perforated appendicitis in children. The American surgeon, 68(12), 1072-1074.

Obinna, O.A., Barnaby, K., Dobies, J., Comerford, M., Drill, A., Walker, N. (2008). Postoperative antibiotic therapy for children with perforated appendicitis: long course of intravenous antibiotics versus early conversion to an oral regimen. Am J Surg, 195: 141–143.

Adibe, O. O., Barnaby, K., Dobies, J., Comerford, M., Drill, A., Walker, N., & Mattei, P. (2008). Postoperative antibiotic therapy for children with perforated appendicitis: long course of intravenous antibiotics versus early conversion to an oral regimen. The American Journal of Surgery, 195(2), 141-143.




DOI: https://doi.org/10.29208/jsfk.2016.2.2.69

Article Metrics

Abstract view : 1423 times
PDF view/download : 816 times



Jurnal Sains Farmasi & Klinis (J Sains Farm Klin) | p-ISSN: 2407-7062 | e-ISSN: 2442-5435

Diterbitkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Andalas bekerjasama dengan Ikatan Apoteker Indonesia - Daerah Sumatera Barat 

      

 JSFK is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.