Uji Toksisitas Subkronis Fraksi Etil Asetat Kulit Buah Asam Kandis (Garcinia cowa Roxb.) terhadap Fungsi Hati dan Ginjal Mencit Putih Betina

Fatma Sri Wahyuni, Intan Nedia Putri, Dessy Arisanti

Abstrak


Pengujian toksisitas subkronis fraksi etil asetat kulit buah asam kandis (Garcinia cowa Roxb.) terhadap fungsi hati dan ginjal mencit putih betina telah dilakukan. Sebanyak 18 ekor mencit putih betina berusia 2-3 bulan dengan berat badan 20-30 gram digunakan sebagai hewan uji. Hewan dibagi menjadi 3 kelompok yaitu 1 kelompok kontrol dan 2 kelompoj perlakuan yang diberi fraksi etil asetat kulit buah asam kandis dengan dosis 500 dan 1000mg/kgBB sekali sehari secara oral selama 60 hari. Parameter yang diamati yaitu aktivitas SGPT dan rasio berat hati untuk fungsi hati dan aktivitas kreatinin serum dan rasio berat ginjal untuk aktivitas ginjal. Data aktivitas SGPT, kreatinin serum dan rasio berat organ hati dan ginjal dianalisis dengan ANOVA dua arah. Hasil penelitian menunjukan bahwa aktivitas SGPT, Kreatinin serum dipengaruhi secara langsung oleh dosis (p<0,05) dan untuk rasio berat hati dan ginjal tidak dipengaruhi secara langsung oleh dosis dan lama pemberian (p>0,05). Dapat disimpulkan bahwa dosis pemberian fraksi etil asetat kulit buah asam kandis memberikan pengaruh yang bermakna terhadap aktivitas SGPT dan kadar kreatinin serum mencit putih betina. Lama pemberian tidak memberikan pengaruh yang bermakna terhadap peningkatan kadar kreatinin serum mencit putih betina dan rasio berat hati dan ginjal mencit putih betina.


Kata Kunci


toksistas sub kronik; fraksi etil asetat; Garcinia cowa; asam kandis; kulit buah.

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. (2003). Pneumonia Komuniti: Pedoman Diagnosa dan Penatalaksanaan di Indonesia, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2013). Profil Kesehatan Indonesia 2013. Jakarta: Departemen Kesehatan.

World Health Organization (WHO). Rational Use of Medicines. 2012 . Diakses dari http://www.who.int/medicines/areas/rational_use/en/

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2012). Profil Kesehatan Indonesia 2011. Jakarta: Departemen Kesehatan.

Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat. (2013). Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2012. Padang: Dinas Kesehatan.

Departemen Kesehatan RI, Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinis. (2005). Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan. Jakarta.

Bahry, B. (1989). Kesenjangan Peresepan Pada Anak. Prosiding: Kongres Nasional VII Ikatan Farmakologi Indonesia, Yogyakarta Oktober 1989, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang.

Jukemura, E. M., Burattini, M. N., Pereira, C. A., Braga, A. L., & Medeiros, E. A. (2007). Control of multi-resistant bacteria and ventilator-associated pneumonia: is it possible with changes in antibiotics?. Brazilian Journal of Infectious Diseases, 11(4), 418-422.

Huang, K. T., Tseng, C. C., Fang, W. F., & Lin, M. C. (2010). An early predictor of the outcome of patients with ventilator-associated pneumonia. Chang Gung Med J, 33(3), 274-282.

Departemen Kesehatan RI. (2009). Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit, Pedoman Bagi Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten/Kota, Jakarta.

Suharjono, Y.T, Sumarno, Semedi J. (2009). Studi penggunaan antibiotika pada penderita rawat inap pneumonia (penelitian di sub Departemen Anak Rumkital Dr. Ramelan Surabaya). Majalah Ilmu Kefarmasian, 6(3), 142-155.

Advisedly, A.T., Berawi, M.M. (2014). Antibiotic Utilization Of Pneumonia In Children of 0-59 Month’s Old in Puskesmas Kemiling Bandar Lampung Period Januari-October 2013 (Skripsi). Lampung; Faculty of Medicine Lampung University.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Pedoman Umum Penggunaan Antibiotika. Jakarta: Kementrian Kesehatan.

Darmansjah, I. (2008). Penggunaan Antibiotika pada Pasien Anak. Majalah Kedokteran Indonesia, 58(10).

Priyanto. (2009). Farmakoterapi dan Terminologi Medis. Lembaga Studi dan Konsultasi Farmakologi, Jawa Barat.

Jawetz, E. (1984). Mikrobiologi Untuk Profesi Kesehatan, Edisi 16. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Anonim. (2010). Efek Samping Obat. Yogyakarta: Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

Worokarti. (2005). Peran Farmasis Dalam Pengelolaan Penderita Penyakit Infeksi Untuk Mencegah Timbulnya Resistensi Antimikroba. In: Naskah Lengkap Simposium Penyakit Infeksi dan Problema Resistensi Antimikroba. Surabaya: AMRIN Study Group and Infectious Disease Center dan FKUA RSU Dr. Soetomo. hal.55-69.

Ostapchuk, M., Donna, M.R., Richard, H.M.D., (2004). Community-Acquired Pneumoni in Infant and Children, Journal of The American Academy of Family Physicians.

Nugroho, F., Pri I.U., Ika Y. (2011). Evaluasi Penggunaan Antibiotika Pada Penyakit Pneumonia Di Rumah Sakit Umum Daerah Purbalingga (Skripsi). Purwokerto: Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Kaparang, P.C., Tjitrosantoso, H., & Yamlean, P.V.Y. (2014). Evaluasi Kerasionalan Penggunaan Antibiotika Pada Pengobatan Pneumonia Anak Di Instalasi Rawat Inap RSUP Prof. DR. R. Kandou Manado Periode Januari-Desember 2013. Pharmacon Jurnal Ilmiah Farmasi, 3(3), 247-254.

Shargel. (1988). Biofarmasetika dan Farmakokinetik Terapan, Edisi. 2, Penterjemah Fasich dan Siti Syamsiah. Surabaya: Penerbit Universitas Airlangga.

Dipiro, J.T., Robert, L.T., Gary, C.Y., R.M., Barbara, G.W., Michael Posey. (2011). Pharmacotheraphy; A Pathophysiology approach, Eight Ed. Mc GrawHill Companies.




DOI: https://doi.org/10.29208/jsfk.2017.3.2.126

Article Metrics

Abstract view : 838 times
PDF view/download : 802 times



Jurnal Sains Farmasi & Klinis (J Sains Farm Klin) | p-ISSN: 2407-7062 | e-ISSN: 2442-5435

Diterbitkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Andalas bekerjasama dengan Ikatan Apoteker Indonesia - Daerah Sumatera Barat 

       

 JSFK is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.